Zulfi S. Koto dan The HUD Institute: 15 Tahun Menjaga Suara Rumah Rakyat

bphtb, whoosh, Waskita Beton Precast
Indra Utama – Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk dan CEO Journalist Media Network

Propertynbank.com – Selasa pagi, 14 Januari 2026, saya berada di Solo dalam perjalanan menuju Boyolali, Jawa Tengah. Agenda nasional menanti: perayaan Hari Desa Nasional pada 15 Januari 2026, dilanjutkan dengan sosialisasi Program Jaga Desa serta pengukuhan sejumlah DPC ABPEDNAS di Jawa Tengah. Pada hari yang sama, saya menerima undangan Milad ke-15 The HUD Institute—sebuah lembaga yang sejak kelahirannya tak pernah berhenti bersuara tentang perumahan rakyat.

Ketidakhadiran saya secara fisik tidak mengurangi makna perayaan tersebut. Selain karangan bunga, tulisan ini menjadi bentuk penghormatan dan kebahagiaan atas perjalanan panjang The HUD Institute yang konsisten mengawal hak bermukim rakyat Indonesia.

The HUD Institute lahir dari kesadaran bahwa persoalan perumahan tidak pernah sederhana. Banyak nama terlibat sebagai deklarator dan pendiri, namun harus diakui bahwa Zulfi S. Koto sebagai Ketua Umum merupakan motor utama yang menjaga api perjuangan tetap menyala. Energinya seolah tak pernah surut. Jika berbicara rumah rakyat, Zulfi seperti menanggalkan sekat usia. Baginya, perumahan rakyat bukan isu musiman, melainkan panggilan nurani.

Dalam konteks ini, HUD dan Zulfi hampir menjadi satu kesatuan. HUD adalah Zulfi, dan Zulfi adalah HUD. Di negeri yang masih menyisakan jutaan keluarga tanpa hunian layak, kehadiran keduanya menjadi pengingat bahwa rumah adalah hak dasar, bukan kemewahan.

Baca Juga : Alumni Teknik Sipil Universitas Pancasila Ini Resmi Menjabat Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk

Lebih dari tiga dekade saya bergelut sebagai jurnalis properti dan perumahan. Saya menyaksikan langsung bagaimana Zulfi dan The HUD Institute bergerak—keras dalam sikap, tetapi tulus dalam tujuan. Ia gemar memberi kritik, masukan, dan gagasan. Diskusi dengannya bisa panjang dan melelahkan, namun selalu berujung pada satu benang merah: bagaimana rakyat kecil bisa memiliki rumah yang layak dan terjangkau.

Pengalaman Zulfi berada di jantung kebijakan publik memperkuat perspektifnya. Saat Program 1000 Tower digulirkan pada era Menteri Perumahan Rakyat M. Yusuf Asy’ari, Zulfi dipercaya sebagai Deputi Perumahan Formal. Dari posisi inilah ia menyadari bahwa persoalan utama perumahan rakyat bukan semata kekurangan unit, melainkan jurang pembiayaan yang tak terjangkau oleh rakyat berpenghasilan rendah.

Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan FLPP—sebuah instrumen kebijakan untuk menjembatani kerja keras rakyat dengan kemampuan membeli rumah. Bagi HUD Institute, kebijakan tanpa keberpihakan hanya akan melahirkan angka, bukan solusi.

Perjuangan The HUD Institute

The HUD Institute merumuskan perjuangan tersebut dalam kerangka 5 Komponen Dasar Hak Bermukim (KDHB): tata ruang dan lingkungan hidup, pertanahan, pembiayaan, teknologi serta bahan bangunan strategis, dan infrastruktur dasar. Lima komponen ini menegaskan bahwa perumahan rakyat tidak bisa dipandang parsial. Kehidupan rakyat bersifat utuh, dan kebijakan harus hadir secara menyeluruh.

Baca Juga : Universitas Pancasila Masuk 10 PTS Terbaik di Indonesia Versi UI GreenMetric 2025

Lima belas tahun berlalu, HUD Institute tetap eksis karena problem perumahan rakyat masih nyata. Konsistensi inilah yang membuat lembaga ini relevan, bahkan ketika banyak organisasi sejenis memilih diam atau larut dalam rutinitas seremonial.

Langkah terbaru HUD Institute melalui inisiasi HUD Academia menunjukkan keberpihakan pada masa depan. Penguatan kapasitas sumber daya manusia perumahan dan kawasan adalah kebutuhan strategis. Sebagai Ketua LSP AREA Indonesia, saya melihat gagasan ini sejalan dengan kebutuhan profesionalisme dan kompetensi di sektor perumahan nasional. Dengan rekam jejak Zulfi, saya percaya HUD Academia akan menjadi fondasi penting bagi ekosistem perumahan ke depan.

Pada akhirnya, The HUD Institute lahir dan bertahan untuk satu tujuan mendasar: memastikan rumah layak, terjangkau, dan manusiawi menjadi hak nyata bagi seluruh rakyat Indonesia. Di usia ke-15 ini, HUD Institute membuktikan bahwa konsistensi masih mungkin, dan suara kritis masih dibutuhkan.

Selamat Milad ke-15 The HUD Institute. Teruslah bersuara, karena selama masih ada rakyat yang belum memiliki rumah layak, perjuangan ini belum selesai.

Oleh : Indra Utama, Ketua Umum DPP ABPEDNAS

The post Zulfi S. Koto dan The HUD Institute: 15 Tahun Menjaga Suara Rumah Rakyat appeared first on Property & Bank.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *