WFH Kembali Menguat, Desain Rumah Kini Ikut Bertransformasi

wfh
Ilustrasi Berkerja di Rumah

Propertynbank.com – Perubahan pola kerja kembali menjadi sorotan setelah pemerintah menetapkan kebijakan kerja fleksibel bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat. Kebijakan ini mempertegas satu hal: bekerja dari rumah atau Work from Home (WFH) bukan lagi fenomena sementara, melainkan bagian dari gaya hidup kerja baru yang terus berkembang.

Bagi banyak pekerja di Indonesia, WFH sebenarnya sudah menjadi rutinitas sejak beberapa tahun terakhir. Sejumlah perusahaan bahkan mulai mengatur jadwal kerja hybrid secara kreatif, mulai dari WFH di awal pekan untuk menjaga produktivitas hingga bekerja dari rumah di hari Jumat ketika ritme pekerjaan cenderung lebih ringan.

Perubahan ini secara tidak langsung ikut menggeser cara masyarakat memandang fungsi hunian. Rumah tidak lagi sekadar tempat beristirahat, tetapi juga ruang produktif yang harus mampu beradaptasi dengan berbagai aktivitas.

Menurut Melina Ardianti Hadiatmodjo, Interior Design Manager IKEA Indonesia, pola WFH saat ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan masa pandemi.

“Dulu WFH muncul karena keharusan, sehingga ruang kerja sering dibuat seadanya. Sekarang WFH lebih menjadi fleksibilitas tambahan, sehingga yang perlu disesuaikan adalah ritme rumah, bukan mengubah rumah menjadi kantor sepenuhnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, banyak keluarga sebenarnya telah menemukan titik kerja alami di dalam rumah, seperti meja belajar anak, area dekat jendela, atau sudut ruang keluarga yang diberi pembatas sederhana. Namun, aspek kenyamanan jangka panjang sering kali masih terabaikan.

Bekerja di tempat tidur, misalnya, menjadi kebiasaan yang terlihat praktis tetapi berdampak pada konsentrasi dan kualitas istirahat. Posisi duduk yang kurang ergonomis juga berpotensi memicu kelelahan lebih cepat.

Melina menilai adaptasi justru terlihat lebih cepat pada para ibu rumah tangga yang terbiasa mengelola fungsi ruang secara bergantian. Mereka mampu membedakan kapan sebuah area menjadi ruang kerja dan kapan kembali menjadi ruang keluarga.

“Yang penting sebenarnya sederhana, yaitu memastikan meja dan kursi di rumah cukup mendukung aktivitas kerja harian,” tambahnya.

Rumah Multifungsi Jadi Tren Baru

Seiring meningkatnya fleksibilitas kerja, konsep hunian multifungsi semakin relevan. Tidak semua orang memiliki ruang kerja khusus, namun sudut kecil yang ditata dengan tepat dapat memberikan efektivitas yang sama seperti kantor.

Menentukan area kerja yang mendukung fokus menjadi langkah awal. Sudut dekat jendela dengan pencahayaan alami, misalnya, mampu meningkatkan kenyamanan sekaligus menjaga energi selama bekerja. Area tersebut juga idealnya mudah dirapikan agar suasana rumah tetap terasa santai setelah jam kerja selesai.

Pembeda visual sederhana juga berperan penting. Karpet kecil, meja lipat, atau perubahan orientasi duduk dapat membantu otak beralih dari mode santai ke mode produktif tanpa perlu renovasi besar.

Pencahayaan dan Postur Jadi Faktor Penting

Selain tata ruang, pencahayaan menjadi elemen yang sering dianggap sepele. Cahaya alami tetap menjadi pilihan terbaik, namun lampu meja dengan arah cahaya yang dapat diatur mampu membantu mengurangi silau layar sekaligus menjaga fokus kerja.

Kenyamanan fisik juga tidak selalu bergantung pada kursi kantor profesional. Sofa, bangku panjang, hingga meja lipat tetap dapat digunakan selama posisi duduk memiliki penopang punggung yang baik. Bahkan, berpindah lokasi kerja dalam rumah sepanjang hari justru membantu tubuh tetap aktif dan mengurangi ketegangan otot.

Mengelola Kebisingan Secara Realistis

Tantangan terbesar WFH sering kali bukan ruang, melainkan dinamika rumah yang hidup. Suara kendaraan, aktivitas keluarga, hingga lalu-lalang kurir menjadi bagian dari keseharian.

Solusi praktis seperti penggunaan karpet, tirai tebal, atau furnitur berlapis kain dapat membantu meredam gema ruangan. Sementara itu, headset dengan fitur peredam suara menjadi perangkat penting saat rapat daring berlangsung.

Pendekatan realistis ini dinilai lebih efektif dibandingkan mengubah struktur rumah secara besar-besaran.

Kerapian dan Rutinitas Menentukan Produktivitas WFH

Area kerja yang terlalu penuh barang dapat memicu kelelahan visual dan menurunkan fokus. Karena itu, penyimpanan portabel seperti rak dinding, wadah penyimpanan, atau troli kecil menjadi solusi praktis bagi hunian dengan ruang terbatas.

Rutinitas kecil juga berperan sebagai penanda psikologis awal dan akhir jam kerja. Aktivitas sederhana seperti merapikan meja sebelum mulai bekerja atau menyimpan perangkat kerja setelah selesai mampu membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi.

Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia, menegaskan bahwa setiap rumah memiliki tantangan berbeda dalam beradaptasi dengan pola kerja baru.

“Kami ingin membantu masyarakat menemukan solusi yang sesuai kebutuhan masing-masing, agar bekerja dari rumah tetap terasa nyaman sekaligus seimbang,” ujarnya.

Melalui berbagai inspirasi penataan ruang yang tersedia di situs, aplikasi, maupun toko IKEA Indonesia, masyarakat dapat menyesuaikan ruang kerja dengan ukuran dan kebiasaan hunian masing-masing.

Pada akhirnya, transformasi WFH tidak hanya mengubah cara bekerja, tetapi juga cara masyarakat memaknai rumah. Dengan penataan yang tepat, hunian kini berkembang menjadi ruang hidup yang lebih fleksibel, tempat beristirahat sekaligus ruang produktif yang mendukung aktivitas sehari-hari.

The post WFH Kembali Menguat, Desain Rumah Kini Ikut Bertransformasi appeared first on Property & Bank.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *