
Propertynbank.com – Di tengah indikasi melemahnya daya beli kelas menengah, sektor ruang ritel di Indonesia menunjukkan dualitas performa. Ritel premium tetap kuat dan bahkan mengalami ekspansi, sementara ritel kelas menengah ke bawah menghadapi tekanan yang memaksa mereka bertransformasi untuk bertahan.
Menurut Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan, saat ini konsumen tidak lagi mengunjungi mal semata-mata untuk berbelanja, tetapi lebih sebagai sarana sosialisasi, kuliner, rekreasi, hingga berolahraga. Oleh karena itu, ruang ritel kini perlu dihadirkan sebagai ruang hidup yang mampu memenuhi kebutuhan lifestyle modern.
“Pola konsumsi masyarakat berubah. Sebagian besar transaksi berpindah ke ecommerce. Ini menjadikan mal bukan sekadar tempat belanja, tapi pusat gaya hidup yang harus multifungsi, dari tempat berolahraga seperti padel tennis dan pickleball, hingga ruang komunitas,” ujar Syarifah.
Ritel premium mencatat pertumbuhan positif, terlihat dari ekspansi tenant yang tetap aktif, khususnya di sektor fashion, lifestyle, dan FnB. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok pengunjung mal premium cenderung memiliki kekuatan beli nyata dan datang dengan tujuan bertransaksi.
Sebaliknya, ritel kelas menengah menghadapi tekanan. Indikasi pelemahan daya beli membuat pengunjung hanya datang untuk sekadar hangout, mencari suasana baru, atau bersosialisasi, tanpa niat berbelanja. Hal ini tercermin dari keluarnya tenant dari sektor fashion, lifestyle, hingga peralatan rumah tangga dari sejumlah pusat perbelanjaan di segmen ini.
Baca Juga : EV dan Tekstil Dukung Pertumbuhan Sektor Industri Hingga Pertengahan 2025
Namun, sektor FnB tetap menjadi motor penggerak, terbukti dari ekspansi beberapa brand ternama seperti Chagee, 88 Seoul, dan 4Fingers Crispy Chicken di awal tahun ini.
Ritel kelas menengah ke bawah kini bertahan dengan strategi omni-channel serta pemanfaatan ruang terbuka untuk event, bazar, pameran, dan komunitas hobi yang mampu mendatangkan trafik kunjungan tambahan. Namun demikian, Knight Frank mengingatkan bahwa keramaian tidak selalu berarti performa baik.
“Indikator sehatnya performa ritel bukan hanya jumlah pengunjung, tetapi ketika crowd tersebut berubah menjadi transaksi nyata. Di sinilah letak tantangan ke depan,” ujar Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia.
Dampak Aksi Demonstrasi Terhadap Ruang Ritel
Knight Frank mengungkapkan, beberapa pusat perbelanjaan yang berada di wilayah aksi demonstrasi mengalami penurunan operasional dan trafik secara langsung. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah untuk menjaga stabilitas dan rasa aman masyarakat sangat diperlukan untuk memulihkan kepercayaan konsumen.
Baca Juga : Gandeng Danantara dan KADIN Indonesia, Menteri PKP Sosialisasi KUR Perumahan
Di sisi lain, pengelola ritel juga diimbau untuk aktif di media sosial dan platform digital, guna menjaga keterikatan dengan tenant dan pengunjung, serta memastikan keberlanjutan operasional di tengah dinamika sosial.
Secara rinci, data pasar ritel Jakarta di Semester 1 2025 adalah, total pasokan ritel (mal): 4.332.092 m² (naik 0,3% YoY), tingkat okupansi rata-rata: 77,4% (naik tipis dari tahun lalu), harga sewa rata-rata: naik sekitar 3% YoY, New supply (hingga 2026): Akan hadir 4 pusat ritel baru di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat serta New tenants: Didominasi oleh global brand dari sektor FnB, Fashion, Lifestyle, Elektronik, Kecantikan, Hiburan, dan Home Appliances.
The post Ruang Ritel Premium Bertahan, Menengah Menyesuaikan Diri appeared first on Property & Bank.
