
Propertynbank.com – Leads Property Indonesia menyebutkan pada tahun 2026, sektor hotel, apartemen sewa, dan ritel menunjukkan pola pertumbuhan baru yang dibentuk oleh perubahan gaya hidup, pergeseran strategi operator, hingga dinamika kawasan bisnis dan industri.
Hendra Hartono, CEO dan Co-Founder Leads Property mengatakan bahwa di luar area CBD, ruang komersial dan unit kondominium yang masih belum terhuni kian potensial dialihfungsikan menjadi hotel atau apartemen sewa. “Pemilik aset mulai melihat konversi sebagai strategi optimalisasi untuk menjaga produktivitas, terutama di area dengan permintaan wisata dan bisnis yang tumbuh,” jelasnya beberapa waktu lalu.
Hendra menambahkan, operator hotel Bintang 5 lokal kini semakin banyak beralih ke konsep resort hotel di kawasan wisata. Pola ini dipicu meningkatnya minat perjalanan domestik serta kebutuhan wisatawan akan pengalaman yang lebih personal dan leisure-oriented dibandingkan business hotel di perkotaan.
Proyeksi Leads Property untuk industri perhotelan pada tahun 2026 adalah, pasokan kumulatif meningkat sebanyak kurang lebih 572 kamar baru, tingkat hunian stabil di 63–64% dan average daily rate (ADR) masih stabil di Rp 1,5–1,6 juta.
Baca Juga : Leads Property : Kondominium Masih Tertekan, Township Bergeser ke Segmen Luxury
Menurut Hendra, untuk Jakarta, pengembangan hotel stand-alone diprediksi lebih terfokus pada hotel bintang 3 karena kebutuhan pasar yang lebih besar dan risiko investasi lebih rendah. Sementara hotel bintang 4 dan 5 akan tetap hadir sebagai bagian dari proyek mixed-use di kawasan CBD, berfungsi sebagai fasilitas pemantik nilai tambah proyek.
“Pasokan hotel baru di segmen upper-upscale dan luxury juga diperkirakan terus bermunculan di Jakarta dan Bali. Beberapa merek global seperti Andaz dan Waldorf Astoria menjadi contoh bagaimana Indonesia semakin diperhitungkan dalam jaringan perhotelan internasional,” tegas Hendra.
Sementara itu, untuk pasar apartemen sewa, durasi penugasan ekspatriat yang semakin pendek membuat operator apartemen sewa harus beradaptasi. Menurut Leads Property, penyedia hunian menawarkan pilihan sewa lebih fleksibel, mulai dari tahunan, bulanan, hingga harian.

“Pilihan harian juga menarik bagi wisatawan domestik yang mencari alternatif selain hotel, terutama di area yang terkoneksi dengan pusat bisnis,” ujar Martin Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department, Leads Property.
Ditambahkan Martin, budget perusahaan untuk penempatan ekspatriat relatif stabil selama beberapa tahun. Hal ini membuat penyewa asing menjadi lebih selektif, terutama mencari unit dengan fasilitas lengkap, keamanan baik, dan lokasi strategis.
Baca Juga : BPKN: Sektor Perumahan Mendominasi Pengaduan Konsumen
Kawasan apartemen sewa yang terhubung dengan perkantoran, hiburan, sekolah internasional, serta komunitas ekspatriat masih mendominasi minat penyewa. Namun tren permintaan mulai meluas ke wilayah seperti Pantai Indah Kapuk (PIK), Bekasi, dan Cikarang. “Pertumbuhan industri dan pusat bisnis di luar Jakarta inti membuat hunian sewa di area tersebut semakin relevan dan diminati,” tambah Martin.
Pelaku Industri Ritel Terapkan Efisiensi
Leads Property menyebutkan, sektor ritel terus menunjukkan transformasi menuju konsep yang lebih efisien dan berorientasi pada pengalaman. Konsep F&B unik, baik lokal maupun internasional, tetap menjadi magnet utama. Gerai F&B dengan ukuran lebih kecil dan biaya operasional rendah semakin banyak memilih lokasi di luar mal untuk memperoleh fleksibilitas biaya.
Selain itu, konsep retail compound diprediksi semakin diminati pada tahun 2026. Model ini tidak hanya menekan biaya konstruksi, tetapi juga lebih efisien dari sisi operasional dan pemeliharaan. Pusat perbelanjaan modern kelas menengah atas hingga premium yang menawarkan experience-based retail diperkirakan lebih mudah menarik pengunjung dibandingkan mal konvensional.
Baca Juga : Dorong Tercapainya Program 3 Juta Rumah, Menteri PKP Siap Dikritik
Gelombang brand ritel asal Tiongkok juga terus memasuki pasar Indonesia, mencakup F&B, general merchandising, hingga produk gaya hidup. Namun, Leads Property mencatat bahwa banyak dari brand ini masih dalam tahap test market, sehingga keberlanjutannya belum dapat dipastikan.
Di kawasan CBD, mal yang sukses adalah yang menjadi bagian dari pengembangan mixed-use, sehingga memiliki captive market internal. Di sisi lain, anchor tenant dan big box tenant kini lebih berhati-hati dalam ekspansi, membatasi luasan unit agar lebih efisien, umumnya di bawah 1.500 m².
“Tren lain adalah pemanfaatan lahan kosong sebagai sport center sementara, seperti lapangan padel atau pickleball, yang dilengkapi dengan kafe outdoor dan retail temporer. Konsep temporary retail ini dinilai efektif menghidupkan kawasan sambil menunggu pengembangan jangka panjang,” ujarnya. “Adaptasi terhadap pola pasar baru, baik di hotel, apartemen sewa, maupun ritel menjadi kunci bagi pengembang dan investor agar tetap relevan dan kompetitif,” tutup Martin.
The post Properti Komersial di 2026 Bergerak Dinamis, Begini Analisa Leads Property appeared first on Property & Bank.
