Lipstick Effect di Blok M Dorong Potensi Properti TOD Jakarta

Blok M, Lipstick Effect TOD
Plaza Blok M yang terintegrasi dengan Stasiun MRT Blok M mencerminkan perkembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD). (Foto: Plaza Blok M)

PropertynBank.com – Kawasan Blok M tengah menikmati kebangkitan sebagai salah satu pusat aktivitas masyarakat Jakarta. Deretan kafe, restoran, ruang kreatif, hingga pusat hiburan yang selalu dipadati pengunjung, khususnya generasi muda, menjadi gambaran perubahan pola konsumsi di tengah tekanan ekonomi. Fenomena ini bahkan dinilai sebagai bentuk lipstick effect, yaitu kecenderungan masyarakat tetap mengalokasikan pengeluaran untuk hiburan atau pengalaman yang relatif terjangkau saat kondisi ekonomi tidak sepenuhnya ideal.

Menurut CBRE Indonesia, fenomena yang terjadi di Blok M bukan sekadar tren gaya hidup sesaat. Kawasan tersebut menjadi contoh bagaimana Transit Oriented Development (TOD) mampu menghidupkan sebuah kawasan ketika didukung aksesibilitas, fungsi komersial, dan ruang publik yang saling terintegrasi.

Senior Director Research CBRE Indonesia, Anton Sitorus, mengatakan kondisi ekonomi saat ini membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uangnya. Namun, bukan berarti aktivitas konsumsi berhenti.

“Setuju, terjadi karena kondisi ekonomi sekarang. Kelas atas yang biasanya spending lebih besar, sekarang mencari tempat yang lebih terjangkau. Ketika orang Jakarta mencari tempat yang enak untuk hangout, mereka datang ke Blok M. Kawasan ini sedang happening,” ujar Anton dalam Media Briefing CBRE Indonesia, pada Rabu (22/7).

Anton menambahkan, kelompok konsumen terbesar saat ini berasal dari generasi milenial dan Gen Z yang memiliki preferensi berbeda dibanding generasi sebelumnya. Menurutnya, Blok M mampu menjawab kebutuhan tersebut melalui kombinasi akses transportasi yang mudah, pilihan kuliner yang beragam, hingga suasana kawasan yang mendukung aktivitas komunitas.

Fenomena tersebut juga menjadi salah satu bukti bahwa perkembangan kawasan perkotaan kini tidak lagi semata ditentukan oleh lokasi strategis, tetapi oleh kemudahan mobilitas dan pengalaman yang ditawarkan kepada masyarakat.

Hal ini sejalan dengan tema utama laporan pasar properti CBRE kuartal II 2026 yang menyoroti transformasi konsep TOD 2.0, yaitu pergeseran dari sekadar pembangunan infrastruktur transportasi menuju penciptaan kawasan perkotaan terpadu yang menghasilkan nilai ekonomi dan properti jangka panjang.

Anton menegaskan, fase berikutnya pertumbuhan properti Jakarta akan sangat dipengaruhi oleh konektivitas.

“Fase berikutnya dari pertumbuhan properti Jakarta akan sangat terkait dengan konetkivitas. TOD tidak lagi sekadar menjadi infrastruktur transportasi, tetapi berkembang menjadi platform pengembangan kawasan multifungsi dan penciptaan nilai jangka panjang.”

TOD Tidak Bisa Disamaratakan, Blok M Dinilai Punya Keunggulan

Meski sama-sama berada dalam jaringan transportasi massal, CBRE mengingatkan bahwa tidak semua kawasan TOD akan berkembang dengan kecepatan yang sama. Senior Director Office CBRE Indonesia, Albert Dwiyanto, mencontohkan perbedaan potensi antara kawasan MRT ASEAN dan Blok M.

“Pertumbuhan TOD tidak bisa disamaratakan. MRT ASEAN memang memiliki konektivitas yang lebih luas, tetapi kawasan di sekitarnya sudah dipenuhi gedung sehingga ruang untuk pengembangan ritel maupun fungsi komersial menjadi terbatas. Sebaliknya, Blok M masih memiliki ruang untuk berkembang sehingga potensi pertumbuhannya lebih besar,” jelas Albert.

Menurutnya, keberhasilan sebuah kawasan TOD tidak hanya bergantung pada keberadaan stasiun transportasi massal, tetapi juga dipengaruhi oleh komposisi fungsi kawasan di sekitarnya. Kawasan yang mampu menggabungkan perkantoran, ritel, kuliner, ruang publik, dan aktivitas komunitas memiliki peluang lebih besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Albert juga menilai meningkatnya aktivitas di Blok M erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi setelah Gen X.

“Lebih kepada self reward sebagai karakteristik generasi setelah Gen X. Ini sudah menjadi bagian dari lifestyle. Daripada masyarakat membelanjakan uangnya ke luar negeri, sekarang mereka menikmati tren yang ada di Jakarta. Itu tentu menjadi hal yang positif karena perputaran ekonomi tetap terjadi di dalam negeri,” ujarnya.

Pandangan tersebut memperkuat bahwa keberhasilan kawasan TOD tidak hanya diukur dari tingginya mobilitas pengguna transportasi umum, tetapi juga dari kemampuan kawasan menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam paparannya, CBRE juga menilai aksesibilitas kini telah menjadi faktor yang lebih penting dibanding lokasi semata. Seiring pembangunan MRT Fase 2A, Dukuh Atas Transport Hub, hingga sejumlah kawasan TOD baru di Jakarta dan Jabodetabek, konektivitas diproyeksikan menjadi penentu utama terbentuknya hotspot properti baru.

Laporan CBRE menyebutkan bahwa TOD akan menciptakan peluang pengembangan kawasan mixeduse yang mengintegrasikan hunian, perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, dan ruang publik dalam satu kawasan. Model pengembangan seperti ini dinilai mampu meningkatkan daya tarik properti sekaligus mendukung mobilitas masyarakat perkotaan.

Bagi  investor maupun pengembang, fenomena Blok M menjadi gambaran bahwa nilai sebuah kawasan tidak lagi hanya ditentukan oleh alamat bergengsi. Ke depan, kemampuan kawasan menghadirkan konektivitas, aktivitas ekonomi, dan pengalaman bagi pengunjung akan menjadi faktor utama dalam menciptakan nilai properti.

Seperti disimpulkan CBRE, pertumbuhan properti Jakarta pada dekade mendatang akan semakin ditentukan oleh bagaimana masyarakat bergerak, bukan semata-mata di mana sebuah bangunan berdiri. Dalam konteks tersebut, keberhasilan Blok M menunjukkan bahwa ketika TOD dipadukan dengan gaya hidup, ruang publik, dan aktivitas komersial, sebuah kawasan dapat berkembang menjadi magnet baru pasar properti Jakarta.

The post Lipstick Effect di Blok M Dorong Potensi Properti TOD Jakarta appeared first on Property & Bank.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *