
Propertynbank.com – Sektor properti nasional tetap memiliki prospek yang positif meskipun dunia saat ini dihadapkan pada berbagai dinamika geopolitik global. Pelaku industri properti, tetap menjaga optimisme terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum DPP REI Joko Suranto usai menghadiri kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) di Jakarta, Kamis (5/3/2026) di di The Tribrata Hotel & Convention Center, Jakarta Selatan.
Ia mengakui bahwa kondisi geopolitik global, terutama konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah, berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi dunia maupun nasional. Namun demikian, Joko menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut.
“Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kita tetap harus menggaungkan optimisme bahwa ekonomi Indonesia cukup kuat, termasuk sektor properti,” ujar Joko Suranto.
Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok pemerintah pada kisaran 5,4% hingga 5,6% masih memiliki peluang untuk tercapai. Hal ini sangat bergantung pada keberhasilan berbagai program strategis pemerintah dalam mendorong aktivitas ekonomi.
Salah satu program yang dinilai dapat memberikan dampak besar bagi sektor properti sekaligus perekonomian nasional adalah program pembangunan 3 juta rumah yang tengah dijalankan pemerintah.
Program tersebut tidak hanya bertujuan mengatasi backlog perumahan, tetapi juga memiliki efek berganda terhadap berbagai sektor industri terkait.
Joko Suranto menjelaskan bahwa percepatan pembangunan perumahan, terutama di kawasan perkotaan, membutuhkan strategi yang adaptif terhadap keterbatasan lahan. Salah satu solusi yang didorong REI adalah pengembangan hunian vertikal.
Menurutnya, pembangunan apartemen atau rumah susun di kawasan perkotaan dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan ketersediaan hunian sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan. “Jika pembangunan hunian vertikal dapat digalakkan, maka akan terjadi pergerakan modal yang besar, perputaran ekonomi meningkat, serta menciptakan lapangan kerja yang luas,” jelasnya.
REI Dukung Tenor KPR 30 Tahun
Selain mendorong pembangunan hunian vertikal, REI juga memberikan dukungan terhadap rencana pemerintah untuk memperpanjang tenor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi hingga 30 tahun.
Joko Suranto menilai kebijakan tersebut akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterjangkauan masyarakat dalam membeli rumah. “Dengan tenor yang lebih panjang, beban cicilan menjadi lebih ringan sehingga peluang masyarakat untuk memiliki rumah akan semakin besar,” katanya.
Tidak hanya memperluas akses pembiayaan perumahan, perpanjangan tenor KPR juga diyakini dapat membantu menekan potensi kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di sektor pembiayaan perumahan.
Di sisi lain, Joko Suranto menekankan pentingnya peningkatan literasi dan edukasi keuangan kepada masyarakat agar pengelolaan keuangan rumah tangga dapat dilakukan secara lebih sehat.
Menurutnya, ketika penghasilan masyarakat meningkat, hal tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pelunasan pokok kredit perumahan, bukan justru mendorong pola konsumsi yang berlebihan.
Terkait target penyaluran KPR FLPP sebanyak 350.000 unit pada tahun 2026, Joko Suranto menilai diperlukan langkah-langkah luar biasa agar target tersebut dapat tercapai. “Tahun sebelumnya realisasi penyaluran FLPP masih berada di sekitar 83% dari target yang telah ditetapkan pemerintah,” ungkapnya.
Untuk meningkatkan realisasi tersebut, REI menilai pemerintah perlu mengambil kebijakan yang lebih progresif, terutama dalam menyederhanakan proses perizinan pembangunan perumahan yang selama ini masih menjadi kendala di berbagai daerah.
Selain itu, REI juga mendorong penguatan kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan guna mengoptimalkan potensi pasar pembiayaan perumahan bersubsidi.
Menurut Joko Suranto, sekitar 76% penyerap kuota FLPP berasal dari peserta BPJS Ketenagakerjaan yang sebagian besar merupakan pekerja dengan penghasilan tetap. “Jika kerja sama ini dapat diperluas hingga tingkat kabupaten secara masif, maka target penyaluran FLPP sangat mungkin tercapai,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa peserta BPJS Ketenagakerjaan memiliki potensi besar sebagai calon penerima KPR FLPP karena latar belakang pekerjaan mereka yang jelas serta memiliki penghasilan tetap.
“Dengan dukungan sosialisasi dan edukasi yang lebih intensif mengenai pentingnya memiliki rumah sendiri, potensi tersebut diyakini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat penyediaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah sekaligus mendorong pertumbuhan sektor properti nasional,” pungkas Joko Suranto.
The post Ketua Umum REI Dorong Hunian Vertikal dan Tenor KPR 30 Tahun appeared first on Property & Bank.
