
Propertynbank.com – Bencana banjir Sumatera memberikan dampak serius terhadap distribusi logistik nasional. Banjir dan longsor besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat itu membuat arus barang, baik kebutuhan pokok maupun logistik industri, mengalami perlambatan signifikan.
Data sementara mencatat sedikitnya 1.666 titik infrastruktur mengalami kerusakan, mencakup ratusan ruas jalan dan puluhan jembatan yang putus. Kondisi ini menyebabkan jalur utama penghubung antarwilayah di Sumatera tidak dapat dilalui, sehingga distribusi barang dari dan menuju pulau tersebut terganggu.
Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memperkirakan kebutuhan dana untuk rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur terdampak banjir di Sumatera mencapai Rp51 triliun.
“Secara umum, kebutuhan anggaran pemulihan diperkirakan sekitar Rp51 triliun dan masih akan terus diperbarui seiring perkembangan data di lapangan,” ujar AHY usai rapat koordinasi penanganan pascabencana di Jakarta, Kamis (11/12/2025) yang dikutip dari berbagai sumber.
Baca Juga : Waskita Beton Precast Raih SUTAMI AWARD 2025, Komitmen Penggunaan Produk Dalam Negeri
Kerusakan terparah terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang selama ini menjadi koridor utama transportasi logistik. Sejumlah jalan nasional dan provinsi mengalami ambles, tertimbun longsor, bahkan hilang tersapu arus banjir, sehingga tidak bisa dilalui kendaraan logistik.
Di Sumatera Barat, jalur Padang–Pariaman dan Padang–Solok menjadi titik paling terdampak. Material longsor yang mencapai ketinggian lebih dari lima meter menyulitkan proses pembersihan. Akibatnya, antrean kendaraan logistik mengular hingga berjam-jam, bahkan beberapa wilayah terisolasi selama beberapa hari.
Sejumlah pengemudi truk mengaku terpaksa berhenti dan bermalam di dalam kendaraan karena tidak tersedianya jalur alternatif. Kondisi ini berdampak langsung pada keterlambatan pasokan bahan pokok, bahan bakar, hingga logistik bantuan.
Harga Bahan Pokok Mulai Tertekan
Gangguan distribusi tersebut mulai memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di sejumlah daerah terdampak. Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Agus Pratiknyo, mengatakan jalur logistik utama di Sumatera hingga kini belum sepenuhnya pulih.
Ia menilai faktor geografis serta kerusakan lingkungan di kawasan hulu memperparah dampak longsor di wilayah hilir. Hal ini membuat proses distribusi barang menjadi semakin sulit.
Baca Juga : Kehadiran Akses Tol Langsung KM 25 Dorong Transformasi Paramount Petals dan Sekitarnya
Laporan dari pemerintah daerah menunjukkan harga beras, telur, dan minyak goreng mengalami kenaikan. Di Padang Pariaman dan Agam, harga beras medium tercatat naik sekitar 6–12 persen hanya dalam hitungan hari. Distribusi LPG 3 kg pun mengalami keterlambatan hingga dua hari dari jadwal normal.
Selain itu, kerusakan pada sektor pertanian memperburuk kondisi pasokan. Total lahan pertanian terdampak mencapai 38.878 hektare, dengan sekitar 5.570 hektare di antaranya mengalami gagal panen. Kerugian petani diperkirakan menembus Rp1,13 triliun.
Prioritas Pemerintah Pasca Banjir Sumatera
AHY menegaskan bahwa pemerintah akan memprioritaskan pemulihan infrastruktur konektivitas, terutama jalan dan jembatan. Dari total kebutuhan anggaran, Aceh menjadi wilayah dengan alokasi terbesar, mencapai sekitar Rp24 triliun, disusul Sumatera Utara dan Sumatera Barat dengan total sekitar Rp13 triliun.
Selain transportasi, pemulihan juga akan mencakup penyediaan air bersih dan sanitasi, mengingat banyaknya keluhan dari warga pengungsian, khususnya terkait kebutuhan toilet portabel dan fasilitas sanitasi dasar.
Baca Juga : Horeee ! Tol Bengkulu Kembali Jadi Proyek Strategis Nasional
Pemerintah mencatat sekitar 112 ribu rumah mengalami kerusakan dengan tingkat bervariasi, mulai dari rusak ringan hingga hanyut. Aceh menjadi provinsi dengan jumlah rumah rusak terbanyak, mencapai 74 ribu unit.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, saat ini tengah menyusun kebutuhan anggaran perbaikan dan pembangunan kembali rumah warga, termasuk opsi relokasi ke kawasan yang lebih aman. Ia menyebutkan bahwa pendanaan pemulihan akan melibatkan dukungan pihak swasta. Salah satunya, Yayasan Buddha Tzu Chi, yang telah menyatakan kesiapan membangun sekitar 2.000 unit rumah bagi warga terdampak. (Laporan Arsya)
The post AHY: Pemulihan Infrastruktur Banjir Sumatera Butuh Anggaran Rp51 Triliun appeared first on Property & Bank.
