
Propertynbank.com – Pasar properti di kawasan Cibubur masih menunjukkan pergerakan di tengah kondisi pasar yang semakin selektif. Rumah second atau rumah bekas tetap menjadi salah satu produk yang banyak dicari, terutama oleh konsumen yang menginginkan hunian landed dengan luas tanah dan bangunan yang lebih besar dibandingkan pilihan di kawasan Jakarta.
Kehadiran infrastruktur transportasi seperti jalan tol dan LRT Jabodebek ikut mengubah daya tarik Cibubur. Akses menuju Jakarta yang semakin terhubung membuat kawasan ini menjadi alternatif bagi masyarakat yang bekerja di Jakarta, tetapi ingin mendapatkan hunian dengan harga dan luasan yang lebih sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh agen properti GadingPro Cibubur. Sinta, Fifi Rofiyani, dan Indah melihat permintaan rumah second di kawasan Cibubur masih berjalan, meski karakter konsumen semakin beragam.
“Sejauh ini untuk rumah second masih oke. Yang mencari juga bervariasi. Ada yang memang tinggal di sekitar Cibubur, ada yang mendapatkan informasi dari teman, tetapi ada juga yang datang dari platform properti,” ujar Sinta usai mengikuti Uji Kompetensi Agen Properti di LSP Area, Jakarta, Jumat, (25/9).
Cibubur Jadi Alternatif bagi Pekerja Jakarta
Menurut Sinta, salah satu karakter konsumen Cibubur adalah masyarakat yang tetap beraktivitas atau bekerja di Jakarta, namun mencari alternatif hunian di kawasan penyangga.
Pertimbangan utamanya adalah luas hunian. Dengan anggaran tertentu, konsumen merasa dapat memperoleh rumah dengan tanah dan bangunan yang lebih luas dibandingkan jika membeli rumah di sejumlah kawasan Jakarta.
“Banyak yang bekerja di Jakarta. Dengan budget yang sama, kalau mencari di Jakarta mungkin rumahnya lebih kecil. Di Cibubur mereka masih bisa mendapatkan tanah dan bangunan yang lebih luas,” jelas Sinta.
Faktor akses juga semakin penting. Kehadiran LRT Jabodebek melalui Stasiun Harjamukti serta jaringan jalan tol membuat konsumen mulai memasukkan konektivitas sebagai salah satu pertimbangan ketika mencari rumah.
Sejumlah listing properti di Cibubur yang dipasarkan saat ini juga menjadikan kedekatan dengan LRT dan tol sebagai salah satu daya tarik utama.
Rumah Second Masih Punya Pasar
Fifi Rofiyani menambahkan, pasar rumah second di Cibubur memiliki segmen yang cukup beragam. Konsumen tidak semuanya mencari rumah dengan spesifikasi atau harga yang sama.
Menurutnya, kawasan seperti Kota Wisata dan Legenda Wisata tetap memiliki daya tarik karena sudah memiliki ekosistem kawasan yang relatif lengkap.
“Kalau di Cibubur, pembeli rumah itu masih ada. Bahkan banyak yang memang datang dengan tujuan membeli, bukan hanya menyewa. Jadi pasar jual beli masih berjalan,” kata Fifi.
Salah satu faktor yang membuat konsumen bertahan adalah kelengkapan fasilitas. Kawasan-kawasan township di Cibubur telah berkembang dengan pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit, area komersial, dan fasilitas lainnya.
Kondisi tersebut membuat konsumen tidak hanya mempertimbangkan rumah sebagai bangunan, tetapi juga lingkungan tempat tinggal dan akses terhadap kebutuhan sehari-hari.
Kota Wisata dan Kawasan Sekitarnya Punya Karakter Berbeda
Dalam pengamatan GadingPro Cibubur, Kota Wisata termasuk salah satu kawasan yang banyak dicari. Namun, konsumen yang menginginkan tanah lebih luas dengan anggaran lebih rendah juga memiliki alternatif di kawasan sekitar.
“Kalau ingin lokasi yang fasilitasnya lengkap dan aksesnya mudah, Kota Wisata memang banyak dicari. Tetapi untuk ukuran tanah yang sama, ada kawasan di sekitarnya yang harganya bisa lebih rendah. Konsumen tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan dan budget,” ujar Fifi.
Menurutnya, selisih harga tersebut menjadi salah satu pertimbangan konsumen ketika membandingkan beberapa kawasan yang secara geografis berdekatan.
Pilihan konsumen pada akhirnya tidak hanya ditentukan harga, tetapi juga akses keluar-masuk kawasan, fasilitas, lingkungan, hingga kebutuhan perjalanan sehari-hari.
Konsumen Kini Lebih Memperhatikan Akses
Sementara itu, Indah melihat perubahan pola pertimbangan konsumen dalam beberapa tahun terakhir. Infrastruktur menjadi salah satu faktor yang semakin sering ditanyakan calon pembeli ketika melakukan pencarian rumah.
“Sekarang konsumen tidak hanya bertanya rumahnya seperti apa dan harganya berapa. Mereka juga melihat aksesnya bagaimana, dekat tol atau LRT tidak, kemudian fasilitas di sekitarnya apa saja,” ungkap Indah.
Menurut Indah, perubahan tersebut membuat lokasi menjadi semakin penting dalam pemasaran properti. Rumah yang berada di kawasan dengan akses transportasi dan fasilitas yang berkembang memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen.
“Kalau aksesnya bagus, konsumen biasanya lebih mudah melihat manfaat jangka panjangnya. Apalagi untuk orang yang setiap hari harus bekerja ke Jakarta, kemudahan mobilitas menjadi pertimbangan utama,” tambahnya.
Perkembangan infrastruktur memang menjadi salah satu penopang kawasan Cibubur. Selain akses Tol Jagorawi, kawasan ini juga terhubung dengan jaringan Tol Cimanggis-Cibitung dan LRT Jabodebek.
Jual Beli Masih Lebih Dominan
Menariknya, berdasarkan pengalaman ketiga agen tersebut, transaksi jual beli di Cibubur masih cukup menonjol dibandingkan sewa.
Fifi mengatakan, permintaan sewa tetap ada, tetapi banyak konsumen yang datang memang memiliki tujuan untuk membeli rumah.
“Kalau untuk Cibubur, kami masih cukup banyak menangani pembelian. Sewa ada, tetapi pembeli rumah masih cukup aktif,” ujar Fifi.
Dari sisi agen, transaksi jual beli juga memiliki karakter yang berbeda dengan sewa. Pada transaksi jual beli, pekerjaan agen umumnya selesai setelah proses transaksi dan serah terima tuntas. Sementara pada transaksi sewa, agen dapat tetap berhubungan dengan pemilik dan penyewa selama masa sewa.
“Kalau jual beli, setelah serah terima dan prosesnya selesai, selesai juga hubungan transaksinya. Kalau sewa, selama masa sewa kadang masih ada hal-hal yang perlu dibantu,” jelas Fifi.
Ruko Ikut Tumbuh
Selain rumah, perkembangan kawasan Cibubur juga terlihat dari pasar properti komersial, terutama ruko. Sejumlah kawasan township terus mengembangkan area komersial untuk memenuhi kebutuhan penghuni yang semakin bertambah.
Indah mengatakan, keberadaan ruko kosong tidak selalu menunjukkan bahwa unit tersebut belum terjual. Sebagian ruko sudah dimiliki investor dan memang disiapkan untuk disewakan.
“Kalau ada ruko yang terlihat kosong, belum tentu belum laku. Ada juga yang sudah dibeli pemiliknya, tetapi memang belum ditempati karena rencananya untuk disewakan,” ujar Indah.
Menurutnya, pola tersebut menunjukkan bahwa ruko masih dipandang sebagai salah satu instrumen investasi oleh sebagian konsumen.
“Biasanya pemilik membeli dulu, kemudian mencari penyewa. Jadi memang ada yang orientasinya bukan untuk dipakai sendiri, tetapi sebagai aset,” tambahnya.
Transaksi Bernilai Besar Tetap Ada
Sinta dan Fifi juga melihat bahwa pasar Cibubur tidak hanya bergerak di segmen rumah sekitar Rp1 miliar. Transaksi dengan nilai lebih besar tetap terjadi, tergantung lokasi, luas tanah, bangunan, dan fungsi properti.
Fifi bahkan menceritakan pengalaman menangani transaksi properti dengan nilai sekitar Rp20 miliar. Properti tersebut memiliki skala cukup besar dan berada di kawasan yang memiliki aktivitas komersial.
“Jadi jangan melihat Cibubur hanya dari rumah dengan harga Rp1 miliar. Ada juga transaksi dengan nilai yang jauh lebih besar. Pasarnya memang beragam,” kata Fifi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pasar properti Cibubur memiliki lapisan konsumen yang cukup luas, mulai dari pembeli rumah pertama, keluarga yang melakukan upgrade hunian, investor, hingga pemilik modal yang mencari properti komersial.
Infrastruktur Mengubah Peta Properti Cibubur
Bagi ketiga agen GadingPro Cibubur tersebut, perkembangan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting yang ikut membentuk pasar properti di kawasan ini.
Sinta menilai, keberadaan tol dan LRT semakin memperkuat alasan konsumen memilih Cibubur sebagai tempat tinggal.
“Kalau dulu orang mungkin melihat Cibubur sebagai kawasan yang cukup jauh. Sekarang dengan adanya tol dan LRT, persepsi jaraknya sudah berubah. Itu yang menurut kami ikut membantu pasar properti di sini,” ujarnya.
Indah menambahkan, perkembangan kawasan juga membuat konsumen semakin selektif dalam menentukan lokasi.
“Cibubur itu luas, jadi konsumen sekarang semakin tahu mau mencari di bagian mana. Mereka melihat akses, fasilitas, lingkungan, dan tentunya harga,” tutur Indah.
Sementara Fifi melihat kondisi tersebut sebagai indikasi bahwa pasar Cibubur masih memiliki ruang untuk berkembang.
“Pasarnya memang tidak selalu ramai setiap hari, tetapi bukan berarti tidak ada transaksi. Kalau produknya sesuai dengan kebutuhan dan harganya tepat, pembeli tetap ada,” pungkas Fifi.
Dengan dukungan infrastruktur, pertumbuhan fasilitas kawasan, serta pilihan produk yang cukup beragam, Cibubur masih menjadi salah satu kawasan yang menarik untuk dicermati dalam peta properti Jabodetabek. Rumah second tetap memiliki pasar, sementara perkembangan kawasan komersial dan akses transportasi membuka peluang baru bagi hunian maupun investasi properti.
The post Pasar Rumah Second Cibubur Masih Bergairah, Akses Tol dan LRT Jadi Penopang appeared first on Property & Bank.
