
Propertynbank : Program pembiayaan rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menunjukkan kinerja positif. Hingga 11 Juni 2026, realisasi penyaluran FLPP telah mencapai 77.532 unit rumah atau setara 22,15 persen dari target pemerintah tahun ini sebanyak 350.000 unit.
Capaian tersebut menjadi sinyal kuat tingginya kebutuhan sekaligus minat masyarakat terhadap kepemilikan rumah pertama, terutama di kalangan generasi muda dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Realisasi penyaluran FLPP tahun ini merupakan hasil kolaborasi antara BP Tapera, 36 bank penyalur, serta 21 asosiasi pengembang yang terlibat dalam penyediaan rumah subsidi di berbagai daerah.
Berdasarkan data BP Tapera, realisasi KPR Sejahtera FLPP tersebut tersebar di 8.859 kawasan perumahan subsidi yang dibangun oleh 9.163 pengembang pada 375 kabupaten/kota di 35 provinsi di Indonesia.
Dari sisi perbankan, Bank BTN masih menjadi kontributor terbesar dalam penyaluran FLPP. Hingga pertengahan Juni 2026, BTN telah menyalurkan pembiayaan untuk 37.657 unit rumah atau sekitar 48,56 persen dari total realisasi nasional.
Posisi berikutnya ditempati kelompok Bank Syariah Nasional dengan realisasi 19.088 unit rumah atau 24,61 persen. Sementara Bank BRI menyalurkan 6.275 unit (8,09 persen), Bank BNI sebanyak 5.608 unit (7,23 persen), dan Bank Mandiri sebesar 2.755 unit (3,55 persen). Sisanya berasal dari berbagai mitra bank penyalur FLPP lainnya.
Sementara dari kalangan pengembang, Real Estate Indonesia (REI) menjadi asosiasi dengan kontribusi terbesar melalui pembangunan 32.026 unit rumah subsidi atau setara 41,3 persen dari total realisasi FLPP. Disusul APERSI dengan 23.048 unit (29,72 persen), HIMPERRA sebanyak 10.426 unit (13,44 persen), ASPRUMNAS sebesar 3.532 unit (4,55 persen), dan Perkumpulan Pengembang Indonesia (PI) sebanyak 2.475 unit (3,19 persen).
Dominasi Minat Generasi Muda
Menariknya, data BP Tapera menunjukkan bahwa generasi muda menjadi kelompok penerima manfaat FLPP terbesar sepanjang tahun ini. Kelompok usia 19 hingga 25 tahun tercatat memperoleh 28.060 unit rumah atau sekitar 36,19 persen dari total penyaluran nasional.
Data tersebut mencerminkan semakin tingginya kesadaran generasi muda untuk memiliki hunian sejak dini melalui fasilitas pembiayaan yang disediakan pemerintah.
Dari sisi profesi, pekerja sektor swasta masih menjadi kelompok yang paling banyak memanfaatkan program FLPP. Jumlahnya mencapai 52.592 penerima atau sekitar 67,83 persen dari total realisasi.
Selanjutnya disusul kelompok wiraswasta sebanyak 12.699 penerima (16,38 persen), pegawai negeri sipil (PNS) 6.343 penerima (8,18 persen), kategori pekerjaan lainnya 4.723 penerima (6,09 persen), serta anggota TNI dan Polri sebanyak 1.175 penerima (1,52 persen).
Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, optimistis capaian penyaluran FLPP akan terus meningkat hingga akhir tahun. Menurutnya, BP Tapera secara konsisten melakukan pemantauan terhadap kinerja bank penyalur dan asosiasi pengembang guna memastikan target yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Selain itu, sosialisasi program rumah subsidi juga terus diperluas agar semakin banyak MBR yang memahami dan memanfaatkan fasilitas pembiayaan tersebut.
“Kami terus melakukan monitoring terhadap kinerja bank penyalur dan asosiasi pengembang. Di saat yang sama, sosialisasi juga kami tingkatkan agar semakin banyak MBR dapat mengakses program rumah subsidi. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, perbankan, hingga asosiasi pengembang,” ujar Heru.
Dorong Pembiayaan Rumah Susun
Selain fokus pada rumah tapak, pemerintah juga mulai memperkuat skema pembiayaan hunian vertikal bagi MBR pada tahun 2026. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan keterjangkauan hunian, khususnya di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan dan harga tanah yang terus meningkat.
Hunian vertikal dinilai mampu memberikan akses yang lebih dekat ke pusat aktivitas ekonomi, kawasan kerja, fasilitas umum, dan pusat kota.
BP Tapera mencatat saat ini terdapat sekitar 2.908 unit rumah susun siap jual (ready stock) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, baik yang dikembangkan oleh swasta maupun oleh Perum Perumnas.
Menurut Heru, ketersediaan stok tersebut menjadi peluang besar bagi generasi muda dan keluarga baru untuk memperoleh hunian dengan lokasi yang lebih strategis dibandingkan rumah tapak di kawasan pinggiran.
Tak hanya itu, berdasarkan data Sistem Informasi Kumpulan Pengembang (SiKumbang), terdapat potensi pengembangan rumah susun mencapai 9.217 unit yang dapat segera direalisasikan.
“Kami melihat data SiKumbang menunjukkan potensi rumah susun mencapai 9.217 unit. Ini akan terus kami dorong agar dapat segera direalisasikan,” kata Heru.
Untuk mempercepat penyaluran FLPP pada hunian vertikal, BP Tapera saat ini terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Kementerian Keuangan, serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Salah satu skema yang tengah dibahas adalah pemberian tenor pembiayaan hingga 40 tahun, disertai fasilitas pelunasan dipercepat tanpa denda. Usulan tersebut melengkapi berbagai insentif yang selama ini telah tersedia dalam program FLPP, seperti uang muka ringan, suku bunga tetap, serta cicilan yang terjangkau.
“Jika ditinjau dari tingkat keterjangkauan berdasarkan upah minimum, maka dengan tenor hingga 40 tahun, angsuran rumah susun diperkirakan hanya sekitar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per bulan,” pungkas Heru.
Dengan realisasi yang telah melampaui 77 ribu unit pada semester pertama tahun ini, program FLPP semakin menunjukkan perannya sebagai instrumen utama pemerintah dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi MBR sekaligus mendukung target penyediaan hunian layak dan terjangkau di seluruh Indonesia.
The post Penyaluran Rumah FLPP Tembus 77.532 Unit, Generasi Muda Terbanyak appeared first on Property & Bank.
