Industri Keramik Butuh Kepastian Energi, ASAKI Dorong Kebijakan Gas Pro-Manufaktur

asaki, industri keramik
Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto

Propertynbank.com — Industri keramik nasional tengah menghadapi tantangan besar akibat ketidakstabilan pasokan gas serta meningkatnya biaya energi yang berdampak langsung terhadap produktivitas dan daya saing industri.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Edy Suyanto, menilai sektor keramik membutuhkan kepastian energi untuk menjaga keberlanjutan produksi. Industri keramik, kata dia, merupakan sektor penerima program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang menetapkan harga gas sebesar USD 7 per MMBTU.

“Namun di lapangan, pelaku industri masih menghadapi gangguan suplai gas yang terjadi berulang di sejumlah wilayah industri. Gangguan gas sekarang frekuensinya semakin sering dan ini sangat mengganggu produktivitas industri,” ujar Edy di sela-sela Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) di Cikande, Banten, Rabu (8/4/).

Ia mencontohkan gangguan pasokan di Jawa Barat pada Agustus tahun lalu ketika tekanan gas turun hingga level minimum sehingga pabrik tidak dapat berproduksi. Situasi serupa kembali terjadi di Jawa Timur pada awal tahun dengan gangguan selama 7–10 hari, kemudian terulang lagi pada Maret di wilayah Jawa Barat. “Akibat gangguan tersebut, sejumlah pabrik anggota ASAKI terpaksa menghentikan operasional sementara,” ungkap Edy.

Harga Gas Naik, Pasokan Belum Andal

Selain masalah keandalan suplai, industri juga menghadapi lonjakan biaya energi. Edy mengungkapkan bahwa sebagian pabrik kini membayar harga gas hingga USD 10,2–10,6 per MMBTU, jauh di atas harga HGBT yang ditetapkan pemerintah.

Kondisi ini membuat komponen biaya energi kembali meningkat signifikan dalam struktur produksi. Jika sebelumnya biaya gas dapat ditekan menjadi sekitar 27–28%, kini kembali naik hingga 36–38% dari total biaya produksi.

“Industri keramik adalah industri padat energi dan tidak memiliki alternatif energi lain. Proses produksi membutuhkan suhu pembakaran sangat tinggi sehingga gas menjadi satu-satunya energi yang paling memungkinkan,” jelas Chief Operating Officer (COO) PT Arwana Citramulia Tbk tersebut.

Penurunan alokasi gas industri juga menjadi sorotan. Dalam satu tahun terakhir, pasokan yang sebelumnya sekitar 67% disebut turun menjadi hanya 51%, sehingga semakin menekan utilisasi kapasitas produksi nasional.

Dorong Kebijakan Domestic Market Obligation Gas

Sebagai solusi jangka panjang, ASAKI mendorong pemerintah mempertimbangkan penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk gas bumi guna memastikan kebutuhan energi sektor manufaktur domestik terpenuhi.

Edy menilai kebijakan tersebut penting mengingat sebagian besar produksi gas nasional masih dialokasikan untuk ekspor, sementara industri dalam negeri membutuhkan pasokan stabil untuk menjaga pertumbuhan manufaktur.

“Ketahanan energi adalah motor manufaktur, dan manufaktur adalah motor pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya. Menurutnya, peningkatan utilisasi industri akibat ketersediaan energi akan memicu ekspansi pabrik, penciptaan lapangan kerja, serta multiplier effect ekonomi yang lebih luas.

Ancaman Impor Menguat

Di tengah kenaikan biaya produksi domestik, industri juga menghadapi potensi peningkatan produk impor. Ketidakpastian geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, berpotensi mendorong negara produsen besar seperti China dan India mengalihkan pasar ekspor mereka ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Jika biaya produksi dalam negeri terus meningkat, produk impor dikhawatirkan kembali mendominasi pasar domestik.

Meski demikian, Edy mengapresiasi dukungan pemerintah melalui kebijakan standar nasional wajib, bea masuk anti-dumping, serta safeguard yang dinilai membantu menjaga industri nasional.

Optimisme Industri Keramik Didukung Program Pembangunan

Di balik tantangan tersebut, industri keramik tetap optimistis terhadap prospek permintaan domestik. Program pembangunan perumahan, renovasi ratusan ribu rumah, hingga pembangunan fasilitas publik dinilai menjadi katalis positif bagi pertumbuhan industri bahan bangunan. “ASAKI menargetkan utilisasi industri dapat mencapai 80% apabila pasokan gas kembali stabil,” tegas Edy.

Industri ini juga memasuki fase ekspansi kedua periode 2025–2029 dengan tambahan kapasitas produksi sekitar 90 juta meter persegi per tahun. Secara total, ekspansi industri diproyeksikan mencapai 160 juta meter persegi, jauh melampaui volume impor yang pada 2024 tercatat sekitar 78 juta meter persegi.

Hal ini menunjukkan industri keramik nasional sebenarnya telah mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik, dari segmen menengah hingga premium berukuran besar. “Selama pasokan gas terjamin, industri keramik Indonesia sangat optimistis bisa memperkuat substitusi impor sekaligus menjadi pemain global,” tutup Edy Suyanto.

The post Industri Keramik Butuh Kepastian Energi, ASAKI Dorong Kebijakan Gas Pro-Manufaktur appeared first on Property & Bank.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *