Pasar Properti Indonesia Mulai Bangkit di Akhir 2025, Tren Positif Sektor Perkantoran dan Ritel

Pasar Properti Indonesia
Para panelis JLL Indonesia

Propertynbank.com – Pasar properti Indonesia mulai memperlihatkan sinyal pemulihan pada akhir 2025, terutama di sektor perkantoran, ritel, serta logistik dan industri. Sejumlah indikator utama menunjukkan tren yang semakin positif, meskipun beberapa segmen masih menghadapi tantangan, khususnya pasar kondominium.

Head of Research JLL Indonesia, James Taylor, mengungkapkan bahwa pasar perkantoran Central Business District (CBD) Jakarta mencatat tanda-tanda awal pemulihan dengan tingkat okupansi meningkat menjadi 72% di akhir 2025. “Angka permintaan sepanjang tahun tersebut juga tercatat sebagai yang tertinggi sejak 2019,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Tidak adanya pasokan gedung perkantoran baru di kawasan CBD selama 2025 turut menopang peningkatan permintaan terhadap inventori eksisting. Aktivitas penyewa masih didominasi oleh strategi relokasi ke gedung dengan kualitas lebih baik, sebuah tren yang juga terlihat di kawasan non-CBD. Bahkan, beberapa penyewa mulai berpindah dari non-CBD ke CBD demi memperoleh akses fasilitas dan konektivitas premium.

Di pasar perkantoran Grade A, lonjakan permintaan terlihat semakin signifikan. Head of Office Leasing Advisory JLL Indonesia, Rosari Chia, menjelaskan bahwa triwulan keempat 2025 menjadi pendorong utama peningkatan permintaan bersih tahunan. “Sektor minyak dan gas menjadi kontributor terbesar, diikuti jasa keuangan dan teknologi,” ungkapnya.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga sewa. Sepanjang triwulan keempat 2025, harga sewa perkantoran Grade A meningkat 0,87% dibandingkan triwulan sebelumnya, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 3,7%. Capaian ini menjadi kenaikan kuartalan keempat berturut-turut sepanjang 2025 dan mencatatkan performa terbaik sejak 2023.

Sementara itu, pasar ritel Jakarta juga menunjukkan geliat positif. Hadirnya pusat perbelanjaan baru pada triwulan keempat 2025 menambah sekitar 25.000 meter persegi pasokan di Jakarta Utara. Kondisi ini mendorong pertumbuhan permintaan ruang sewa, terutama dari merek internasional sektor food and beverage (F&B) yang didominasi pelaku usaha asal Tiongkok, disusul oleh sektor fashion dan lifestyle. Tingkat okupansi pusat perbelanjaan pun meningkat hingga 86% di akhir tahun.

“Ke depan, pasokan ritel diproyeksikan masih bertambah hingga 2027, dengan dua pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat ditargetkan selesai pada 2026, serta satu proyek di Jakarta Timur pada 2027,” jelas Rosari.

Berbeda dengan sektor komersial, pasar kondominium masih melanjutkan tren penurunan hingga triwulan keempat 2025. Penjualan tercatat menurun dan mencapai level terendah sepanjang tahun. Meski demikian, aktivitas pasar tetap ditopang oleh proyek-proyek berlokasi strategis di sekitar CBD yang mendekati tahap penyelesaian. Tidak adanya peluncuran proyek baru membuat jumlah pasokan di pasar semakin terbatas.

Dari sisi hunian tapak, Senior Director Strategic Consulting JLL Indonesia, Milda Abidin, menilai pasar menunjukkan performa yang relatif stabil pada semester kedua 2025. Penurunan peluncuran klaster baru hingga 53% dan melemahnya permintaan justru menciptakan keseimbangan baru antara pasokan dan penyerapan.

“Kepercayaan pengembang terhadap sektor ini tetap kuat, tercermin dari peluncuran township baru seluas sekitar 150 hektar di Bogor melalui kolaborasi pengembang lokal dan asing. Segmen menengah ke bawah masih menjadi penopang utama pasar, didukung oleh insentif pajak pemerintah yang meningkatkan daya beli end-user,” tegas Milda.

Di sektor perhotelan, Vice President Investment Sales, Hotels & Hospitality Group JLL Asia Pacific, Irina Chadsey, mencatat adanya peningkatan aktivitas investasi hotel sepanjang 2025. Meskipun volumenya masih di bawah pasar utama Asia Tenggara lainnya, meningkatnya minat investor asing diproyeksikan akan mendorong transaksi pada 2026, dengan fokus pada aset premium di Jakarta dan Bali.

Optimisme terhadap investasi properti Indonesia juga ditegaskan oleh Senior Director Capital Markets JLL Indonesia, Herully Suherman. Menurutnya, stabilitas politik, prospek ekonomi yang positif, serta kekuatan demografi menjadikan Indonesia tetap menarik di tengah ketidakpastian global. “Meski investor cenderung lebih berhati-hati dan oportunistik, sektor properti nasional masih dipandang memiliki potensi jangka panjang,” tuturnya.

Pasar Properti Indonesia Makin Solid

Sementara itu, sektor logistik dan industri mencatat kinerja paling impresif. Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia, Farazia Basarah, menyebutkan bahwa penyerapan gudang modern di Jabodetabek sepanjang 2025 mencapai hampir 490.000 meter persegi, melampaui rekor sebelumnya pada 2023.

“Tingkat hunian meningkat signifikan dari 90% pada awal tahun menjadi 96% di triwulan keempat. Aktivitas pasar didominasi oleh investasi asal Tiongkok yang didorong permintaan kuat dari sektor elektronik, otomotif, serta makanan dan minuman. Proyek-proyek premium dengan spesifikasi unggulan dan lokasi strategis pun mampu menetapkan harga sewa lebih tinggi,” kata Farazia.

Secara keseluruhan, pasar properti Indonesia pada akhir 2025 menurut JLL, menunjukkan fondasi pemulihan yang semakin solid. Dengan dukungan investasi asing, kebijakan pemerintah, serta perbaikan kinerja sektor-sektor utama, prospek pasar properti nasional pada 2026 dinilai tetap menjanjikan, meskipun masih diiringi sikap kehati-hatian dari para investor.

The post Pasar Properti Indonesia Mulai Bangkit di Akhir 2025, Tren Positif Sektor Perkantoran dan Ritel appeared first on Property & Bank.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *