Whoosh : Antara Kebanggaan dan Harga Mahal yang Harus Dibayar

bphtb, whoosh
Indra Utama – CEO Journalist Media Network

Propertynbank.com – Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh, akronim dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Handal, telah menjadi ikon baru kemajuan teknologi transportasi Indonesia. Namun, di balik kecepatan 350 km/jam dan gemerlap peresmiannya, ada pertanyaan besar yang belum selesai dijawab: apakah semua ini benar-benar sepadan dengan harga yang harus kita bayar sebagai bangsa?

Ketika proyek ini pertama kali diumumkan, biaya diperkirakan sekitar Rp 80 triliun. Kini angka itu melonjak hingga lebih dari Rp 114 triliun. Padahal, awalnya pemerintah berjanji proyek ini tidak akan menggunakan dana APBN. Faktanya, karena tekanan finansial dan potensi gagal bayar, pemerintah akhirnya turun tangan menanggung sebagian risiko.

Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa proyek yang disebut-sebut “tanpa beban negara” ternyata justru menyisakan beban ekonomi yang nyata. Sejumlah kalangan menilai, proyek ini lebih didorong oleh ambisi politik dan prestise dibanding kebutuhan mendesak masyarakat luas.

Harga tiket kereta cepat berkisar antara Rp 150.000–Rp 350.000, relatif tinggi bagi masyarakat menengah bawah. Ironisnya, jalur Jakarta–Bandung sudah memiliki tol Cipularang dan kereta Argo Parahyangan yang lebih murah dan fleksibel. Maka wajar jika muncul pertanyaan:

Baca Juga : Hudson Square Mulai Dibangun, Ikon Baru Gaya Hidup Urban di Paramount Gading Serpong

Siapa sebenarnya yang diuntungkan oleh proyek ini? Apakah rakyat, atau hanya kalangan tertentu yang bisa menikmati kemewahan dan kenyamanan berkecepatan tinggi? Sementara itu, kebutuhan akan transportasi massal di daerah lain, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, masih jauh dari layak. Di sinilah muncul paradoks pembangunan: kecepatan di Jawa, ketertinggalan di luar Jawa.

Di Balik Kritik Whoosh, Ada Harapan

Namun, tidak adil jika kita hanya menilai Whoosh dari sisi negatif. Di tengah segala kritik dan pembengkakan biaya, proyek ini tetap menyimpan nilai strategis jangka panjang.

Pertama, transfer teknologi dan peningkatan SDM. Ratusan insinyur Indonesia kini memahami teknologi perkeretaapian cepat, sesuatu yang tak ternilai untuk masa depan transportasi nasional.

Baca Juga : Diikuti 180 Ilmuan Cilik, Danamon Dukung Kreativitas Anak Di Gramedia Science Day 2025

Kedua, efisiensi waktu dan integrasi ekonomi. Perjalanan Jakarta–Bandung kini hanya 36–45 menit. Jika diikuti dengan tata kelola kawasan stasiun yang produktif, efek domino ekonomi bisa luar biasa, dari pariwisata, properti, hingga logistik.

Ketiga, landasan untuk ekspansi masa depan. Proyek ini adalah langkah awal menuju rencana besar kereta cepat Jakarta–Surabaya. Bila direncanakan matang dan efisien, manfaatnya bisa terasa di seluruh Pulau Jawa.

Harga Mahal Sebuah Peradaban

Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Namun, kemajuan sejati bukan hanya soal kecepatan infrastruktur, melainkan kecepatan belajar dari kesalahan. Indonesia membayar mahal untuk proyek ini, bukan hanya dengan uang, tapi juga dengan kepercayaan publik dan harapan akan tata kelola yang transparan.

Whoosh akan tercatat dalam sejarah sebagai simbol ambisi bangsa. Tapi sejarah juga akan menilai: apakah proyek ini menjadi tonggak kemajuan, atau justru monumen dari kebijakan yang terlalu tergesa.

Yang jelas, kita tidak boleh berhenti hanya pada kebanggaan simbolik. Kini saatnya memastikan Whoosh tidak hanya cepat di rel, tapi juga cepat memberi manfaat nyata bagi rakyat.

Refleksi Sebuah Keputusan

Kereta Cepat Whoosh memang bukan sekadar proyek transportasi, ia adalah cermin tentang bagaimana bangsa ini mengambil keputusan besar.

Apakah dengan kalkulasi matang, atau hanya karena ingin terlihat hebat di mata dunia. Waktu memang bisa dihemat, tapi kebijakan yang tergesa bisa membuat kita kehilangan arah. Semoga kecepatan Whoosh juga diimbangi dengan kebijaksanaan yang tak kalah cepat.

The post Whoosh : Antara Kebanggaan dan Harga Mahal yang Harus Dibayar appeared first on Property & Bank.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *