Amerika Serikat Terapkan Government Shutdown, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

brics, Government Shutdown
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

Propertynbank.com – Fenomena government shutdown di Amerika Serikat kembali menjadi sorotan dunia. Penutupan sebagian aktivitas pemerintahan federal AS ini terjadi ketika Kongres gagal menyepakati rancangan anggaran negara untuk tahun fiskal yang baru pada Rabu, 1 Oktober 2025. Kondisi ini menyebabkan penghentian sementara pendanaan bagi sejumlah lembaga dan layanan publik non-esensial, serta penundaan gaji bagi pegawai pemerintah.

Shutdown bukan hal baru di Amerika. Dalam sejarah modern, kondisi ini pernah terjadi beberapa kali, termasuk pada 2018–2019 yang berlangsung selama 35 hari—terpanjang dalam sejarah AS. Dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga berimbas ke berbagai negara lain, termasuk Indonesia.

Apa Itu Shutdown Pemerintahan AS?

Secara sederhana, government shutdown adalah kondisi ketika sebagian operasi pemerintah federal berhenti akibat tidak tersedianya dana operasional. Pegawai yang dianggap “tidak esensial” dirumahkan tanpa bayaran, sementara mereka yang “esensial” tetap bekerja tanpa gaji sementara waktu.

Selama shutdown, berbagai layanan publik seperti pengawasan pangan oleh FDA, administrasi visa, hingga pembukaan taman nasional akan terhenti. Menurut PBS NewsHour (2025), shutdown juga dapat memperlambat data ekonomi resmi seperti laporan tenaga kerja dan inflasi, yang kemudian memengaruhi kebijakan moneter AS.

Baca Juga : Summarecon Serpong Dikembangkan Sebagai Kota Terpadu Berkelanjutan

Pada shutdown yang terjadi tahun 2025 ini, Wikipedia mencatat sekitar 900.000 pegawai federal dirumahkan sementara, dan sekitar 700.000 pegawai lainnya tetap bekerja tanpa gaji. Akibatnya, aktivitas ekonomi dan belanja publik Amerika Serikat menurun secara signifikan dalam jangka pendek.

Dampak Ekonomi Global

Shutdown AS berpotensi menimbulkan efek rambatan terhadap perekonomian global. Politico (2025) melaporkan bahwa setiap minggu shutdown dapat menelan kerugian hingga miliaran dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat.

Selain itu, The Guardian mencatat bahwa ketidakpastian fiskal AS dapat mengganggu kepercayaan pasar dan memicu fluktuasi di pasar modal dunia. Forbes menambahkan, dampak lain yang mungkin terjadi adalah gangguan pada rantai pasok global karena tertundanya impor dan ekspor barang dari pelabuhan-pelabuhan utama AS.

Dampak Government Shutdown Bagi Indonesia

Bagi Indonesia, dampak shutdown AS tidak bersifat langsung, tetapi tetap signifikan karena keterkaitan ekonomi antara kedua negara. Amerika Serikat merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dengan nilai perdagangan yang cukup besar.

Baca Juga : Buka Lapangan Kerja, Menteri PKP Dorong Anak Muda Jadi Pengembang Perumahan

Menurut data Kementerian Perdagangan RI (Ditjen PPI), total perdagangan Indonesia–AS mencapai sekitar USD 34,5 miliar, dengan ekspor Indonesia ke AS sekitar USD 23,2 miliar dan impor dari AS sebesar USD 11,2 miliar, menghasilkan surplus sekitar USD 11,6 miliar.

Menurut Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, situasi ini berpotensi memengaruhi ekspor Indonesia ke AS, menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan, serta menghambat proses negosiasi tarif yang tengah berjalan.

Namun, Deni menilai efeknya tergantung pada durasi shutdown atau penutupan yang terjadi. Bila penutupan berlangsung kurang dari 2-3 pekan, dampaknya tak akan terlalu besar. Jika berangsung lebih lama atau di atas sebulan seperti yang pernah terjadi sebelumnya, dampaknya cukup signifikan.

“Mengingat AS adalah salah satu perekonomian terbesar di dunia. Jadi rambatan dampaknya bukan hanya pada domestik AS tapi juga pada perekonomian dunia dan termasuk Indonesia,” ucapnya dikutip dari Tempo.

Estimasi Kerugian Ekonomi

Dikutip dari Politico, Penasihat ekonomi Presiden Donald Trump, Russ Vought memperingatkan bahwa penutupan pemerintahan yang berkepanjangan dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi yang serius.

Baca Juga : Menteri PKP Gandeng Gubernur DKI Jakarta Gencarkan Sosialisasi KUR Perumahan

Amerika Serikat bisa kehilangan sekitar 15 miliar dolar AS dari produk domestik brutonya (PDB) setiap minggu selama penutupan berlangsung. Jika penutupan ini berlangsung selama satu bulan, maka akan ada tambahan sekitar 43.000 orang yang kehilangan pekerjaan, demikian peringatan dari Dewan Penasihat Ekonomi (Council of Economic Advisers) dalam memo tersebut.

Kerugian itu belum termasuk 1,9 juta pegawai sipil federal yang saat ini dirumahkan (furloughed) atau bekerja tanpa dibayar, di mana 80 persen di antaranya tinggal di wilayah Washington.

Jika dihitung terhadap PDB nasional Indonesia yang berkisar di atas USD 1 triliun, maka dampak tersebut mungkin memang terlihat kecil—sekitar 0,1 hingga 0,2 persen poin terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, bila shutdown berlangsung lama, efek psikologis terhadap pasar keuangan dan nilai tukar rupiah bisa lebih terasa.

Sektor yang Paling Terkena Dampak

Sektor manufaktur, tekstil, alas kaki, dan produk elektronik merupakan yang paling rentan terhadap penurunan permintaan dari pasar Amerika. Produk-produk ini bergantung pada daya beli konsumen AS yang menurun selama shutdown akibat tertundanya gaji pegawai federal.

Baca Juga : Tingkatkan Kompetensi, GadingPro Gandeng LSP AREA Uji Sertifikasi 1.800 Member

Selain itu, sektor investasi juga bisa terdampak. Brookings Institution menyebutkan bahwa shutdown berpotensi menunda penyaluran dana luar negeri dan bantuan dari lembaga seperti USAID, yang selama ini aktif mendukung proyek pembangunan dan pemberdayaan di Indonesia.

Tanggapan Pemerintah Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa meski shutdown AS dapat menunda negosiasi perdagangan bilateral, dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia masih terbatas. Pemerintah juga tengah berupaya memperluas pasar ekspor ke negara-negara lain seperti India, Timur Tengah, dan Afrika untuk mengurangi ketergantungan pada AS.

“Tim negosiasi berunding melalui Zoom, tetapi dengan adanya shutdown di Amerika, itu termasuk kita juga kena. Artinya, negosiasinya sementara terhenti,” ujarnya.

Shutdown pemerintahan Amerika Serikat menimbulkan ketidakpastian ekonomi global yang dapat berdampak terhadap perdagangan, investasi, dan stabilitas pasar keuangan Indonesia.

Faktor paling krusial adalah lamanya shutdown berlangsung. Semakin lama pemerintah AS tertahan dalam kebuntuan anggaran, semakin besar efek rambatannya terhadap mitra dagang seperti Indonesia. Diversifikasi pasar ekspor, penguatan pasar domestik, serta kebijakan fiskal yang adaptif menjadi langkah penting untuk meminimalkandampak jangka menengah.

The post Amerika Serikat Terapkan Government Shutdown, Apa Dampaknya Bagi Indonesia? appeared first on Property & Bank.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *